Selama beberapa ratus tahun ilmu fisika didominasi oleh teori newton yang menyatakan bahwa setiap zat terdiri dari molekul dan atom serta inti atom yang massif. Makin massif sel atom suatu zat, makin padat zat itu.
Tetapi dalam beberapa puluh tahun terakhir, terjadi revolusi dalam ilmu fisika yaitu dengan ditemukannya fisika kwantum, yang menyatakan bahwa inti atom dapat diuraikan, sehingga akhirnya hanya terdiri dari kumpulan energi yang dinamis saja.
Salah satu dampak dari revolusi dalam ilmu fisika ini adalah berkembangnya teknologi nano, yaitu suatu teknologi yang mampu memperkecil atom menjadi 1/50.000 dari aslinya.
Sejarah singkat teknologi Nano
Ide awal teknologi Nano dicetuskan pada tahun 1959 oleh fisikawan pemenang hadiah Nobel yang bernama Richard Feyman. Dalam ceramahnya yang berjudul “ There is plenty of room at the bottom”, ia mengatakan bahwa materi dapat disusun atau diubah dengan cara memanipulasi dan menggabungkan atom-atom pembentuknya, misalnya dengan Nano Teknologi kita dapat membuat materi, seperti kayu dengan merangkai sejumlah atom untuk menggantikan kayu alam yang persediaannya kian menurun .
Pada saat itu ide Feynman tersebut dianggap sebagai suatu guyonan komunitas fisikawan dieranya. Namun ide Feynman tersebut menjadi bahan pemikiran serius oleh Binnig dan Rohrer. Yang atas kerja kerasnya itu akhirnya pada tahun 1981 mereka berhasil menemukan suatu alat yang dinamakan Scanning Tunnelling Microscopy (STM) yang berbasis pada efek quantum tunnellling. Pada tahun 1986, atas temuannya tersebut mereka mendapatkan penghargaan hadiah Nobel Fisika.
Beberapa bulan kemudian ,tahun 1986 Binnig, Quarte dan Gerber memperkenalkan prototype yang pertama Atomic Force Microscope (AFM) yang bekerja atas dasar kontrol gaya atom di permukaan sampel dan cantilevernya.
Manfaat AFM ini banyak sekali,sehingga benda-benda apa pun dapat dibuat sangat kecil, seperti telepon seluler, komputer, pesawat tv, radio dan alat-alat kedokteran. Sehingga dimungkinkan pengembangan teknologi transformasi dari rangsang-rangsang optik menjadi impuls-impuls digital yang biasa dikirim melalui saluran telekomunikasi ke seluruh dunia melalui satelit.
Dalam ilmu kedokteran, dengan adanya alat yang canggih yang super mini, yang didukung oleh teknologi nano, dapat dikembangkan untuk terapi berbagai penyakit yang semula hanya dapat dilakukan dengan pembedahan, kemoterapi, dan sebagainya.
Dalam sosial budaya, sudah barang tentu berpengaruh pada prilaku manusia. Untuk bersilaturrahmi tidak perlu lagi berkirim surat, cukup menggunakan fasilitas internet.
Revolusi iptek tidak semua berdampak positif, ada juga dampak negatifnya, terutama pada norma sosial dan budaya. Teknologi yang canggih memungkinkan anak-anak dapat mengakses pornografi melalui internet.
Teknologi kloning manusia memicu permasalahan baru dalam etika, apakah teknologi ini memberikan kemashlahatan bagi umat atau sebaliknya.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa umat manusia sedang berada di tengah revolusi iptek yang dahsyat dan berlangsung sangat cepat. Masalah norma dan etika akan menghadapi tantangan sangat besar, dan hanya manusia-manusia yang cerdas dan bermorallah yang unggul dalam revolusi ini.
Kaitkata: Add new tag, AFM, nano, newton, sain